Mohon Jangan Anggap Sepele Artikel Ini..!!! Ini Alasan Ulama Ingatkan “Hati-Hati Tanda Hitam di Jidat”, Bantu Share ya ...

Sebagian orang punya tanda hitam di jidat. Tanda hitam ini biasa disangka sebagai bekas banyak sujud (shalat). 

Hal itu didasarkan pada firman Allah dalam surat Al Fath ayat 29 : 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى ال�'كُفَّارِ رُحَمَاءُ بَي�'نَهُم�' تَرَاهُم�' رُكَّعًا سُجَّدًا يَب�'تَغُونَ فَض�'لًا مِنَ اللَّهِ وَرِض�'وَانًا سِيمَاهُم�' فِي وُجُوهِهِم�' مِن�' أَثَرِ السُّجُودِ 

“Muhammad itu yaitu utusan Allah serta orang-orang yang bersama dengan dia yaitu keras pada orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka. Anda saksikan mereka ruku’ serta sujud mencari karunia Allah serta keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka terlihat pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS. Al Fath : 29) 

Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud (tanda-tanda mereka terlihat pada muka mereka dari bekas sujud). Berikut yang melatari pemahaman kalau tanda hitam di jidat itu adalah bekas sujud. 

Hal ini tidak seutuhnya salah karena mungkin saja seorang banyak sujud (shalat) lalu tanpa berniat jidatnya menghitam. Namun, penafsiran beberapa ahli tafsir dari kelompok sahabat Nabi serta tabi’in bukan begitu. 

Ibnu Abbas mengatakan maksud tanda-tanda itu yaitu tanda baik yang ada di wajah mereka. Mujahid serta mufassir yang lain menjelaskan atsaris sujud itu adalah khusyu’ serta tawadhu’. 

As Saddi mengatakan kalau shalat menjadikan muka seorang jadi lebih indah. 

Lebih jauh Ibnu Katsir menjelaskan kalau beberapa ulama salaf mengatakan kalau “siapa yang banyak shalat di malam harinya jadi wajahnya terlihat indah di siang harinya. ” 

Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan juga mengatakan hal sama. 

“Siapa yang memperbaiki hatinya, jadi Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya, ” kata Umar. 

“Sesuatu yang terpendam dalam jiwa akan terpancar lewat roman muka, ” kata Ustman. 

Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Zhilalil Quran menegaskan kalau “min atsaris sujud” tidaklah tanda hitam di jidat seperti banyak dipahami. 

“Siimaahum fii wujuuhihim min atsaris sujuud (tanda-tanda mereka terlihat pada muka mereka dari bekas sujud). Tanda yang terlihat di wajah mereka yaitu keelokan, sinar, kecerahan serta keramahan, ” kata Sayyid Qutub. “Dari sumbu beribadah teranglah kehidupan, keelokan serta kelembutan. Tanda ini bukan berupa tanda hitam di jidat seperti yang segera dipahami saat mendengar firman Allah min atsaris sujud. Yang disebut atsaris sujud yaitu dampak dari beribadah. ” 

Karena tak ada tafsir yang menjelaskan kalau atsaris sujud maknanya tanda hitam di jidat, beberapa ulama juga mengingatkan agar waspada. Sebab hal itu bisa menyebabkan riya’. 

Saat Ibnu Umar bertemu dengan seorang yang punya tanda hitam di dahi, ia juga mengingakan. “Bekas apa yang ada di dahimu? Sungguh saya sudah lama bersahabat dengan Rasulullah, Abu Bakar, Umar serta Utsman. Apakah kau lihat ada sisa itu pada dahiku? ” 

Abu Darda juga demikian. Saat bertemu dengan orang yang punya isyarat hitam di dahi, ia mengingatkan. “Seandainya bekas itu tak ada pada dirimu pasti lebih baik. ”
Previous
« Prev Post
Show comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *